Menelusuri Jejak Letusan Gunung Tambora

Menelusuri Jejak Letusan Gunung Tambora

Menelusuri Jejak Letusan Gunung Tambora. Letusan pertama Gunung Tambora terdengar pada 5 april 1815 di Pulau Jawa. Terdengar selama 15 menit dan berlangsung sampai kesokan harinya, bagaikan gemuruh meriam peperangan.

Menelusuri Jejak Letusan Gunung Tambora

Demikian catatan Gubernur Jendral Hindia Belanda, Thomas Stamfford Raffles. Tentang letusan Gunung Tambora dalam memoarnya The History of Java.

Raffkes menulis ledakan tersebut sempat disangka meriam yang menyerang pasukan di Yogyakarta. Pada 6 april, sinar matahari tertutup. Serta hujan abu dalam jumlah kecil pun mulai menyelimuti Sulawesi dan Gresik di Jawa Timur.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Demak Beserta Raja Rajanya

Menelusuri jejak letusan Gunung Tambora. Catatan tentang letusan Gunung Tambora juga tercantum pada naskah kuno kerajaan Bima, Bo Sangaji Kai.

Baca Juga: Jejak Kedasyatan Letusan Gunung Agung

Maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu, maka bersembunyilah seperti bunyi meriam opeperangan. Kemudian turunlah krisik batu dan abu seperti dituang lamanya tiga hari dua malam. Sebuah naskah itu sebagimana dibicarakan ahli fisiologi Siti Maryam Salahuddin. 88 Tahun yang merupakan putri Sultan Bima terakhir, Muhamad Salahuddin.

Berdasarkan laporan Letnan Owen Philips, selaku utusan Raffles, Raja Sanggar masih hidup dan menjadi peristiwa tesebut.

Sekitar pukul 7 malam tanggal 10 april terlihat tiga bola api besar keluar dari Gunung Tambora. Kemudian tiga bola api tersebut bergabung di udara dalam satu ledakan dasyat tersebut.

Menelusuri Jejak Letusan Gunung Tambora

Tahun Tanpa Musim Panas

Menelusuri jejak letusan Gunung Tambora. Catatan berbagai saksi mata dan hasil analisis para ahli semaikn menegaskan bahwa letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Merupakan letusan yang terbesar dalam catatan sejarah modern.

Material vulkanis yang dikeluarkan saat Gunung Tambora meletus mencapai lebih dari 100 km kubik atau 100 milliar meter kubik. Sedangkan Gunung Merapi memuntahkan 150 juta meter kubik saja.

Volcanic eruption Index Tambora sekala 7. Itu yang terbesar dan baru pertama terjadi pada sejarah modern. Sementara Merapi mencapai 4.

Dampak sangat luas. Aerosol sufat yang dikeluarkan oleh letusan Tambora Tertahan di atmosfer sehingga mengalahkan sinar Matahari ke bumi. Setahun kemudian, gelap masih menyelimuti Benua Eropa pada musim panas. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagal ‘Tahun Tanpa Musim Panas’.

Letusan tersebut juga menyebabkan ketinggian Gunung Tambora menyusut hampir separuhnya menjadi 2.700 meter dari permukaan laut.

Menelusuri Jejak Letusan Gunung Tambora

Kelaparan

Imbas letusan Gunung Tambora kepada nyawa manusia jauh lebih dasyat. Dalam laporan kepada Raffles, Letnan Owen Philips menjelaskan kondisi Pulau Sumbawa dan Dompu yang melewati sebagai wilayah Bima. Sebagian besar wilayah Kerajaan Sanggar yang terletak di kaki Gunung Tambora turut hancur.

Bencana terbesar yang dialami peduduk sangat mengerikan untuk dikisahkan. Mayat-mayat masih bergelimpangan di tepi jalan dan beberapa perkampungan tersapu bersih, rumah-rumah hancur. Penduduk yang masih hidup menderita kelaparan.

Sejumlah catatan menyebutkan material vulkanis dari Gunung Tambora juga menyebabkan gagal panen di Pulau Tambora dan Pulau Bali. Akibatnya, sebanyak 100 ribu jiwa meninggal di wilayah sekitar Pulau Sumbawa dan 200.000 jiwa secara global.

Situs setelah letusan digambarkabn dalam naskah kuno Kerajaan Bima yang ditulis pada 1815.

Maka heran sekalian hambanya, melihat karunia Rabbal’alamin yang meletuskan al-Fa’alu-I-Lima Yurid (Apa Yang Dihendakinya). Maka teraglah hari maka melihat rumah dan tanaman maka rusak semuanya demikianlah adanya. Yaitu pecah Gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora. Bernama Abdul Gafoor dan Raja Pekat bernama Muhammad.

Menelusuri Jejak Letusan Gunung Tambora

Ancaman bencana

Ahli geologi dari Museum Geologi Bandung, Indyo Pratomo. Yang terlibat dalam penelitian bersama Haraldur Singurdsson daru Universitas Rhode Island, Amerika Serikat. Pada 2007, menemukan kerangka manusia di Dusun Oi Bura yang dapat digunakan untuk merekonstruksi kejadian saat letusan Gunung Tambora.

Kerangka yang ditemukan masih bertahan di tempat pada saat terjadi letusan utama. Mereka kebetulan jatuh masih di bawah rumah sebndiri, tertimbun rumahnya sendiri. Mungkin juga pada saat itu hujan karena kita temukan endapan lumpur. Jadi diperkirakan diajatuh di dalam lumpur karena di bagian bawahnya itu utuh dalam artian tidak terbakar.

Dari temuan itu, diduga penduduk di kaki Gunung Tabora ketika itu tidak mengenal ancaman Gunung Berapi.

Baca Juga: Kisah Amukan Krakatau Hingga Belah Pulau Jawa dan Sumatra

Selain Tambora, Gunung Merapi lain di wilayah Indonesia yang tercatat sebagai letusan besar dalam sejarah modern. Yaitu Karakatau pada tahun 1883, meski kedahsyatannya di bawah Tambora.

Author: admin sejarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *