Pesan Toleransi Veteran Yang Bertugas Sebagai Mata-mata Belanda

Pesan Toleransi Veteran Yang Bertugas Sebagai Mata-mata Belanda. Perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Tidak pernah jadi soal di perjuangan ketika bangsa ini memperebutkan kemerdekaan.  Istilah pribumi dan nonpribumi tidak menjadi topik kontroversial pada zaman tersebut. Seluruh energi masyarakat terfokus untuk mengentaskan negara dari penjajahan.

Pesan Toleransi Veteran Yang Bertugas Sebagai Mata-nnata Belanda

Pesan Toleransi Veteran Yang Bertugas Sebagai Mata-mata Belanda

Bagi Soegeng Boediarto, seorang pejuang kemerdekaan republik Indonesia (PKRI), pribumi adalah pengistilahan yang tidak pantas.

Diera perjuangan ,elawan penjajah, menurut Soegeng, yang ada saat itu adalah cap sebagai patriot atau penghiyanat. Seorang patriot adalah yang tulus memperjuangkan negara dan tanah airnya untuk mencapai kemandirian bangsa.

Sementara penghianat adalah mereka yang mengingkari bangsa sendiri dengan cara membelot ke penjajah demi kepentingan pribadi.

“Berjuang untuk kemerdekaan tidak pernah mempermasalahkan warna kulit atau etnis. Siapa saja yang mau berjuang memerdekakan bangsa, diaajak ikut dan saya paling antipati saat itu terhadap penghianat banga” kata Soegeng saat ditemui di kediamannya, purwokerto, banyumas, jawa tengah.

Ayah dari Bupati Banjarnegara Budhi Saewono ini membuktikan sendiri perkataannya. Ia yang saat itu masih berkewarganegaraan asing bersatu dengan para pejuang lain uyntuk merebut kemerdekaan.

Soegeng baru mendapatkan status kewarganegaraan republik indonesia jauh setelah indonesia merdeka [ada 1967 melalui surat keputusan presiden soeharto kala itu.

Nyatanya, di usia ke 21 tahu, ia dipercaya hingga ditunjuk sebagai anggota polisi keamanan tentara rakyat pos rahasia dalam kota purwokerto dan sekitarnya pada 1948, yang kemudian berganti nama corps polisi militer Djawa (CPMD) yang bermarkas di kali bagor Banyumas.

Soegeng yang saat itu berpangkat sersan mendapatkan tugas khusus dari satuannya sebagfai intelijen. Ia bertugas menyadap informasi dari pihak musuh atau Belanda serta penyuplai kebutuhan dan perlengkapan tentara yang bermarkas di lereng barat gunung slamet.

Keberadaan pos rahasia ini sempay tercium oleh tentara Belanda. Sebagian anggota polisi tentara lari ke luar kota untuk menghindari sergapan serdadu belanda.

Namun Soegeng bersemangat seorang anggota lainnya, Kirom, tetap diperhatikan di dalam kota untuk memata-matai gerak-gerik Belanda.

Di Tugaskan Sebagai Mata-mata

Soegeng meneruskan tugas di pos rahasia dengan lebih rapi agar tidak diketahui Belanda. Ia rutin mengirim kan berita ke komandan pos rahasia CPMD DET II/III Sersan Mayor Agus Rusdan untuk diteruskan ke pemerintah.

Baca juga : Sejarah 1 Martet 1949

“Pahlawan berjuang tanpa makan gaji. Misinya adalah menghapus penjajah dan menumpas penghianay bangsa yang merongrong keutuhan NKRI”.

Dekat Dengan Belanda

Penunjukan Soegeng sebagai penyadap informasi bukan tanpa alasan. Rumah orangtua Soegeng berada di dekat markas Belanda di alun-alun purwokerto.

Soegeng sejak remaja akrab dengan perwira atau tentara Belanda. Ia bebas bertandang ke markas serta bercengkraman dengan tentara Belanda setiap saat.

Statusnya sebagai warha keturunan asing membuatnya leluasa bergaul dengan tentara Belanda tanpa khawatir dan curiga.

“Belanda tahunya saya itu China, tidak mungkjin saya ikut bantu republik Indonesia”.

Karena alasan itu, tentara Belanda selalu bersikap terbuka terhadap Soegeng. Kondisi itu menguntungkan Soegeng karena ia mudah menyerap segala informasi penting dari mereka, terutama menyangkut agen da penyerangan terhadap markas tentara Indonesia.

Ia membocorkan setiap informasi penting yang ia peroleh ke komandannya untuk diteruskan ke pemerintahan republik indonesia.

Serangan Belanda sering terpatahkan atau tak berhasil karena pemerintah Indonesia dahului informasi rencana mereka.

“Kalau Belanda mau menyerang, saya kasih kode ke tentara indonesia agar bersiap atau lari dulu karena senjata mereka lebih canggih. Saya kasih senjatanya apa saja. ”

Baca Juga : Upaya Oprasi Sejora 1975

Soegeng mendapat gelar kehormatan sebagai pejuang kemerdekaan republik indonesia oleh pemerintah indonesia pada 15 agustus 1981.

Ia juga mendapatkan anugerah Bindang Veteran RI pada hari ulang tahun legium beteran republik indonesia (LVRI) yang ke-47 pada 2004.

Author: admin sejarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *