Sejarah Gunung Anak Krakatau

Sejarah Gunung Anak Krakatau. Mengalami peningkatan aktivitas sejak Juni 2018. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencanba Geologi (PVMBG). Kementrian EDSM kini sudah menaikkan status Gunung Anak Krakatau jadi siaga III mulai kamis 28 Desember 2018.

Sejarah Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Karakatau hampir setiap hari meletus. Pada Agustus 2018 lalu di Selat Sunda ini sampai erupsi sebanyak 576 kali dalam sehari.

Hingga, pada 22 Desember 2018. Aktivitasnya semakin meningkay dan terjadi erupsi yang menyebabkan tsunami dan gelombang pasang hingga 24 Desember 2018. Dibandingkan letusan-letusan sebelumnya, letuisan saat ini bisa di bilang tidak ada apa-apanya. Lalu Bagaimana sejarah terbentuknya Gunung Anak Karakatau.

Sejarah Gunung Anak Krakatau

Seperti diketahui, bumi terbagi dalam beberapa jenis lempengan tektonik besar. Kebanyakan aktivitas vulkanologi terjadi di lempengan ini. Gunung Anak Krakatau termasuk salah satu dari 127 gunung berapi di Indonesia yang berada dalam cincin api tersebut.

Pada masa prasejarah, para ahli geograpi memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda. Gunung ini lantas meletus dahsyat sehingga menyisahkan sebuah Kaldera (Kawah besar) yang diesbut Gunung Krakatau Purba.

Gunung Krakatau Purba meletus pada tahun 216 Masehi yang mengakibatkan 2/3 Krakatau hancur dan tenggelam. Dikutip dari Wikipedia, catatam mengenai letusan Karakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan.

Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah bagai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sumber banjir timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra.

Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara.

Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut dan lingkatan pantai mencapai 11 kilometer. Letusan tersebut menyisakan tiga pulau kecil yang diberi nama Pulau Sertung, Pulau Rakata atau Krakatau Besar dan Pulau Panjang atau Krakatau Kecil.

Sejarah Gunung Anak Krakatau

Pertumbuhan Lava yang terjadi dalam kalder rakata membentuk dua pulau Vulkanik, yaitu Danan dan Perbuatan. Gunung Danang dan Gunung Perbuatan ini lantas menyatu menjadi satu pulau dengan pulau Rakata tempat Gunung Rakata berdiri. Persatuan ketiga gunung api ini ang disebut Gunung Krakatau.

Pada 26 hingga 27 Agustus 1883 terjadi letusan amat dahsyat yang menghancurkan hampir 60% tubuh Krakatau di bagian tengah dan terbentuk lubang kaldera. Letusan ini berkekuatan 21.574 kali bom atom dan letusan Krakatau terdengar hingga radius 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Letusan itu sangat dahsyat awan panas dan Tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Meletusnya Krakatau diikuti dengan tsunami yang menyapu lebvih dari 295 kampung di pesisir pantai barat Banten. Dari Merak, Anyer, Labuan, Panimbang, Ujung Kulon, hingga Cimalaya di karawang, Jawa Barat.

Kawasan di Selatan Sumatra pun tidak luput dari gelombang tsunami akibat meletusnya Gunung Krakatau. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke Pantai Hawaii, Pantai Barat Amerika Tengah dan Semananjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.

Lebih dari 36.000 orang menjadi korban dlaam bencana besar tersebut. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, Tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudra Indonesia. Suara letusan itu terdengar di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer.

Daya Ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakan di Hirosima dan Nagasaki di akhir perang Dunia II. Letusan Krakatau menyebabkan dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Letusan itu menghancurkan Gunung Danang, Gunung Perbuwatan serta sebagaian Gunung Rakata di mana setengah kerucutnya hilang membuat sekungan selebar 7  km dan sedalam 250 meter.

40 Tahun setelah Gunung Krakatau Meletus, muncullah gunung Anak Krakatau. Anak Krakatau ditandai pada 29 Desember 1927 ketika sejumlah nelayan dari jawa menyaksikan ada uap dan abu muncul dari Kaldera. Setiap bulan tubuhnya bertambah tinggi sekitar 0,5 meter atau 6 meter per tahun.

Sejarah Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau di ambil pada Mei 1929, dua tahun setelah munculnya ke permukaan. Krakatau bangun kembali setelah 44 tahun tenang. Dari Data Gynyng Api Indonesia (Badan Geologi, ESDM 2011). Disebut Gunung Anak Krakatau lahir pada 30 Januari 1930. Puncak dengan batuan basalt muncul ke permukaan air pertama kali pada 26 Januari 1928.

Author: admin sejarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *