Mengenal Lebih Dekat 5 Jenis Tsunami

5 Jenis Tsunami

Mengenal lebih kat 5 jenis tsunami. Tsunami di Palu, Sulawesi Tengah terjadi pada Jumat (28/9) berbarengan dengan gempa di Kabupaten Donggala. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan sekitar 1.234 orang tewas hingga hari ini karena dampak yang ditimbulkan dua peristiwa itu.

Pemerintah Jokowi sendiri membuka tangan pada dunia internasional terkait dengan bantuan penanganan usai gempa terjadi. Saat ini, ada puluhan ribu warga yang mengungsi karena gempa dan tsunami.

Di sisi lain, sebagian warga mungkin tak banyak mengenal berbagai jenis tsunami. Rangkuman Istilah Tsunami terbitan United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (Unesco) pada 2007, sedikitnya menjelaskan sejumlah hal di antaranya sejarah tsunami di Indonesia.

Kata tsunami sendiri berasal dari istilah Jepang yakni tsu yang berarti pelabuhan dan nami yakni gelombang. Secara umum, tsunami merupakan gelombang yang biasanya ditimbulkan guncangan macam gempa dan longsor di dasar laut.

Tak hanya sejarah, Unesco dalam rangkuman itu juga menjelaskan sejumlah klasifikasi tsunami berdasarkan dampaknya. Peristiwa pertama yang tercatat adalah Tsunami Banda pada 1674 silam. Setelah itu, sekitar 173 tsunami berskala besar dan kecil terjadi sepanjang 1674-2016.

5 Jenis Tsunami

Berikut 5 jenis tsunami:

1. Mikrotsunami

Jenis tsunami ini tak bisa dideteksi oleh mata dan relatif berbahaya. Jenis ini memiliki amplitudo yang kecil sehingga sulit dideteksi lebih awal dan harus menggunakan alat tertentu.

2. Tsunami Lokal

Jenis ini memiliki dampak menghancurkan terbatas pada radius 100 km dari sumber gempa. Pada umumnya, tsunami lokal timbul karena gempa bumi, tanah longsor, dan aliran lahar vulkanik.

3. Tsunami Regional

Tsunami jenis ini lebih besar 10 kali lipat dari Tsunami Lokal dan dampaknya mencapai 1.000 km dari sumbernya. Tsunami ini memiliki waktu perjalanan 1-3 jam dari titik sumbernya.

4. Tsunami Jauh

Bermula sebagai Tsunami Lokal, teletsunami atau Tsunami Jauh merupakan gabungan gelombang lokal yang melintasi samudera dengan energi besar. Dampak kehancuran dapat mencapai radius lebih dari 1.000 km, salah satunya terjadi di Aceh pada 2004 lalu.

5. Tsunami Atmosfer

Bukan hanya berdampak di daratan, tsunami juga menimbulkan tekanan atmosfer melaju cepat di atas laut dangkal. Kecepatan ini hampir sama dengan kecepatan gelombang sehingga keduanya berkemungkinan beriringan.

Penelitian Geofisika Kelautan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nugroho Dwi Hananto sebelumnya menjelaskan tsunami sangat memengaruhi kondisi pesisir dan bawah laut karena gelombangnya bersifat menghantam.

Khusus Palu, Nugroho juga mengatakan Teluk Palu juga memiliki geomorfologi yang unik. Pasalnya daerah teluk ini memiliki bentuk yang sangat curam. Sehingga gelombang tsunami bisa berdampak lebih parah.

“Kawasan Teluk Palu hingga Donggala juga mempunyai bentuk mirip kanal tertutup dengan bentuk dasar laut yang curam. Akibatnya jika ada massa air laut datang, gelombangnya lebih tinggi dan kecepatannya lebih cepat”, jelas Nugroho.

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *