Sejauh Mana Teknologi Bantu Pencarian Orang Hilang Pasca Bencana?

Teknologi Bantu Pencarian Orang Hilang Pasca Bencana

Teknologi bantu pencarian orang hilang pasca bencana. Tim Aksi Cepat Tanggap mencatat terdapat 1.203 korban tewas pasca gempa dan tsunami yang menghantam Kabupaten Donggala dan Kota Palu sekitarnya pada Jumat (28/9) lalu. Selain korban tewas, terdapat 46 orang yang dilaporkan hilang. Persoalan jumlah korban hilang dalam setiap bencana yang datang selalu jadi momok.

Pencarian korban hilang bisa dilakukan dengan pencarian secara manual, menggunakan anjing pelacak, hingga menggunakan perangkat elektronik, semisal kamera mini dan perangkat pendeteksi gerakan. Sayangnya, langkah-langkah tersebut punya celah masalah efektivitas waktu dan sulitnya kegiatan di lapangan.

Teknologi Bantu Pencarian Orang Hilang Pasca Bencana

Akbar Hossain, peneliti Auckland University of Technology, dalam papernya berjudul “A Smartphone-assisted Post-Disaster Victim Localization Method”, menawarkan teknologi bernama Smartphone Assisted Victim Localization (SmartVL). SmartVL, secara sederhana, merupakan teknologi yang menjadikan smartphone mengirim sinyal koordinat keberadaannya secara otomatis, pada smartphone lain maupun pada tower khusus.

Dalam dunia jaringan ada teknologi bernama Long Term Evolution Advanced (LTE-A). Di dunia jaringan smartphone masa kini, LTE-A umum ditemukan pada ponsel pintar. Smartphone akan terhubung ke stasiun LTE-A bernama Evolved Bode B atau eNB.

Pada hari-hari biasa, keterhubungan antara smartphone dan stasiun LTE-A longgar. Karena jaringan LTE-A bekerja dengan memanfaatkan banyak stasiun. Namun, tatkala bencana alam terjadi, beberapa stasiun rusak. Smartphone akan otomatis mencari stasiun lain. Pada stasiun yang masih berfungsi akan terjadi lonjakan hubungan penggunaan smartphone. Lonjakan inilah yang menjadi pemicu “disaster mode” aktif. SmartVL lantas bekerja otomatis.

Meski menjanjikan, implementasi SmartVL masih jauh. Namun, penggunaan smartphone untuk mencari korban atau orang-orang terdampak bencana tak pupus begitu saja. Perusahaan-perusahaan teknologi membikin alat pencarian versi mereka masing-masing. Google merilis Google Person Finder, sementara Facebook meluncurkan Crisis Response.

Facebook Crisis Response

Facebook Crisis Response merupakan fitur pada media sosial Facebook yang berfungsi menghubungkan korban bencana dan komunitas. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan menggunakan Facebook Crisis Response, semisal berbagi informasi hingga menciptakan kegiatan pendanaan atau donasi bagi korban. Tetapi, “Facebook Safety Check”, merupakan andalan Facebook Crisis Response. Facebook Safety Check merupakan fitur yang berfungsi memberitahu teman di platform tersebut, bahwa orang yang melakukan konfirmasi dengan fitur tersebut, aman terhadap suatu kejadian, baik bencana maupun serangan teroris.

Google Person Finder

Google Person Finder ialah aplikasi yang berguna menemukan orang hilang. Aplikasi ini punya dua sisi, pengguna yang menggunakan aplikasi untuk mencari orang hilang dan pengguna yang menggunakan aplikasi untuk memberikan informasi. Aplikasi ini sangat bergantung pada informasi yang diberikan pengguna lain. Tanpa informasi yang dibagikan, sulit menemukan orang yang hilang melalui aplikasi ini.

Saat ini, aplikasi Google Person Finder baru “aktif” di dua bencana. Gempa bumi di Jepang berkekuatan 8,9 skala richter pada 2011 lalu dan gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala. Pada gempa bumi Jepang, Google Person Finder memuat 2.300 informasi terkait orang hilang.

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *